Kamis, 06 Juni 2013

Seminar Tere Liye

Yogyakarta, 6 Juni 2013 at  14.00

Mendengar seminar Tere Liye di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM yang di adakan BEM KM UGM, saya jadi berminat untuk menulis. Saya sempat berpikir ingin menulis semenjak mengikuti mata kuliah penyuntingan teks awal semester 2 lalu, tetapi belum tersampaikan keingina tersebut. Sekarang setelah saya mendengarkan talk show dari penulis best seller Tere Liye, keinginan untuk menulis itu muncul kembali. Kadang memang bingung mau menulis tentang apa, namun ada beberapa tips untuk menulis yang saya dapatkan dari talk show barusan, pengen tahu, yuk simak..
11. Mengapa kita harus menulis?
Menurut Tere Liye yang nama aslinya Darwis itu, dia mengatakan bahwa menulis itu adalah sebuah . kebaikan yang bisa ditaburkan ke semua orang, jadi kita perlu menulis. Dia menceritakan tentang kisah 3 sahabat, yang sama-sama cantik, dan sama-sama berada di fakultas kedokteran. Dari SMA sampai Perguruan Tingga, mereka selalu bersama, hingga akhirnya lulus pun bersama. Mereka bercita-cita ingin menjadi dokter yang handal. Suatu ketika, mereka bertiga berjanji akan bertemu lagi 10 tahun yang akan datang, dan berlomba untuk mendapatkan pasien terbanyak.
 Setelah 10 tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali, dan saling menanyakan kabar. Setelah itu, mereka ingat janji yang dulu pernah diikrarkan. Akhirnya mereka mulai menceritakan pengalaman masing-masing. Wanita pertama bercerita bahwa dia sudah menjadi dokter yang terkenal di daerahnya, dia selalu berbuat baik pada pasiennya hingga banyak sekali yang berobat padanya. Dia sudah memiliki pasien sebesar 10 ribu jiwa, 2 sahabatnya saling takjub. Wanita yang kedua bercerita bahwa dia telah menjadi dokter khusus dalam bencana-bencana dan tragedi-tragedi perang ataupun gejolak di suatu negara, bencana Tsunami Aceh, bahkan hingga ke Timur Tengah seperti Palestina, sudah dia datangi. Dia telah memiliki pasien 100 ribu pasien, dan itu lebih menakjubkan kata kedua sahabatnya, dan wanita ketiga, dia bercerita bahwa dia tidak memiliki pasien, dia hanya mempunyai dua pasien yaitu ibu dan suaminya. Setelah lulus dan disumpah menjadi seorang dokter, wanita ketiga ini menikah dan mempunyai seorang anak, namun ketika dia ingin mendirikan sebuah klinik untuk praktiknya, ibunya jatuh sakit hingga bertahun-tahun sampai akhirnya meninggal di tahun ke lima setelah diangkat menjadi dokter. Setelah itu dia berpikir kembali untuk membuka klinik, namun tak disangka, musibah pun kembali datang kepadanya. Setelah ibunya meninggal, suaminya sekarang jatuh sakit, kalau bukan dia istrinya yang merawat, siapa yang akan merawat? Akhirnya dia memutuskan untuk merawat suaminya hingga sembuh. Dia sudah melupakan keinginannya menadi seorang dokter yang handal, namun tak disangka, disela-sela kesibukannya merawat ibu dan suaminya, dia telah menulis ribuan artikel kesehatan diblognya. Hingga pada akhirnya, ada seseorang yang menemukan artikel tersebut dan memintanya untuk diterbitkan. Setelah dia berpikir, akhirnya dia menerbitkan artikel-artikel tersebut. Dia memiliki 3-4 buku mengenai kesehatan, dan telah dicetak hingga ribuan eksemplar. Sampai sekarang dia telah menghasilkan uang yang berlimpah. Walaupun dia tak menjadi seorang dokter, namun ilmunya telah ia manfaatkan dengan menulis buku. Walaupun secara hakiki dia tak memiliki pasien khusus kecuali ibu dan suaminya, namun bukunya telah dimanfaatkan oleh jutaan orang di Indonesia.
Dari ketiga wanita tersebut, kita dapat mengetahui bahwa wanita yang ketiga lebih memiliki banyak pasien dari pada kedua wanita sahabatnya.
22.  Mau menulis tentang apa?
Kita harus menulis apa, yang tahu hanyalah diri sendiri. Hobi kita apa? Memasak? Mulailah dengan membuat resep makanan. Hobi kita apa? Membuat aksesoris jilbab? Mulailah dengan membuat aksesoris jilbab. Hobi kita apa? Berimajinasi, nah mulailah dengan membuat sebuah novel. Sebenarnya tidak ada buku yang baik atau jelek, yang ada hanya kerelevannya atau tidak (Tere Liye). Kita dapat memulai menulis apa saja yang kita pikirkan, untuk jadi bagus atau tidak tulisan kita, itu tidak penting, yang penting kita mencoba menulis.
Berikut adalah tips-tips menulis menurut Tere Liye, yang saya dengarkan barusan di acara Talk Shoe Tere Liye.
1.      Semua hal bisa menjadi tema dalam menulis.
Apapun yang ada di sekitar kita, bisa kita jadikan sebagai inspirasi untuk menulis, jika kita memiliki sudut pandang yang berbeda yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebagai contoh, adalah kata “Hitam”. Kebanyakan orang melukiskan hitam dengan “Hitam adalah sebuah warna yang gelap, kelabu, dsb.” Akan tetapi, apabila kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda, kita dapat melukiskan “Hitam” dengan spesial, seperti, “Hitam selalu datang terlambat. Kuliah terlambat, tidur terlambat, belajar terlambat, namun ketika sang pelangi datang dan menemui sang hitam, sang pelangi telah merubah sang hitam menjadi berwarna-warni, sehingga dia menjadi sesuatu yang indah yang dapat dilihat, dinikmati, dan disanjung semua orang.”
Cerita itu benar-benar mengispirasi saya untuk menulis. Yah, walaupun saya belum pernah menulis, setidaknya saya sudah pernah menulis diary. J
2.      Berpikir Kreatif    
Selain memiliki sudut pandang yang berbeda, berpikir kreatif juga sangat penting. Kita harus mengasah cara berpikir kreatif dari sekarang. Tak ada kata terlambat. Semua bisa di mulai sekarang.
Berpikir kreatif adalah suatu pikiran yang berbeda dari yang lain, tidak harus yang megah, kadang yang kecil pun bisa menjadi spesial walaupun hal tersebut tidak diketahui banyak orang (Tere Liye).
3.      Membutuhkan Ambisi.
Ambisi dapat ditumbuhkan dengan sering membaca buku, observasi atau mengamati segala hal yang ada di sekeliling kita.

            Sekian dulu yaa, saya mau makan. Bye.bye :*